Memoar


baheula mah Cu!

Dua cin-cin Abah Anom yang hilang

Hai kawan, akan kuceritkan kepadamu tentang persembunyianku setelah wisuda, bersembunyi dari tuntutan sosial seorang sarjana, dari pilihan bekerja atau menikah. Dua hal itu yang biasanya dijadikan pilihan hidup seorang sarjana, tapi tidak dengan diriku, bagiku melanjutkan kuliah adalah pilihan terbaikku. Tapi kuliah lagi bagiku suatu yang sulit, namun sangat mungkin. Nah untuk itulah aku bersembunyi, berhenti sejenak, merenungkan kembali rencana hidupku, membakeli dengan ilmu kawedukan seorang sarjana, aku di Pare kawan, kursus bahasa Inggris.

Pare, 22 Januari 2010

Aku belum belajar Bahasa Inggris kawan, namun mendapatkan pelajaran yang luar biasa, “Smart” nama kursusanku,  di sini aku menemukan seorang kakek berusia 72 tahun belajar bahasa Inggris, sontak muncul pertanyaan besar dalam benakku ko bisa? untuk apa?

Kakek yang akrab di panggil Bapak Aki ini ternyata berasal dari Suryalaya Tasik Malaya, pak Aki tinggal di lingkungan Abah Anom, pesantren tasawuf. Ternyata motif pak Aki belajar bahasa inggris sangat visioner, memimpikan 10 tahun ke depan di usia senjanya, sebab kata abah Anom Suryalaya akan menjadi pusat pengkajian tasawuf se-Asia. Pak Aki berpikir salah satu hal yang akan menjembatani itu adalah bahasa Inggris, dan yang paling penting buku-buku Suryalaya belum ada yang di tulis ke dalam bahasa Inggris, bagaimana mau diakses dengan cepat oleh masyarakat internasional bila buku-buku suryalaya masih dalam bahasa lokal?

Keinginan belajar bahasa Inggris pak aki tidak serta merta begitu saja, tahun 2006 Abah Anom mengeluh ke pak Aki “Dua cin-cin Abah telah hilang” beberapa kali Abah Anom mengeluhan hal ini ke pak Aki, dan pak Aki hanya menduga-duga dua cin-cin apa gerangan yang telah hilang? Mulanya pak Aki mengira dua cin-cin itu adalah MAK (khusus) yang berubah menjadi MAK (kejuruan), dan MA (Madrasar Aliyah). Dua lembaga yang pernah pak Aki pimpin, hal ini menjadi bahan renungannya sampai tahun 2008. Atau dua cin-cin Abah yang hilang itu adalah slogan Suryalaya “ilmu ‘amaliyah, ilmu ‘ilmiyah”? dan setelah beberapa lama merenungkannya, pak Aki berkesimpulan bukan itu yang dimaksud Abah. Akhirnya di tahun 2009 pak Aki menemukan jawabannya, dua cin-cin itu bahasa Arab dan bahasa Inggris, dua hal itu yang mulai hilang di Suryalaya. Maka di bulan Agustus tahun itu juga pak Aki yang sudah renta diusia 72 tahun membulatkan tekad belajar bahasa Inggris, semata-mata untuk mewujudkan mimpi Suryalaya menjadi pusat kajian tasawuf se-Asia.

Kawan, sekarang pak Aki telah menerjemahkan al-Syafinat al-Najâ’ kedalam bahasa Inggris, di samping buku-buku pengantar kajian Islam lainnya. Kalau saya yang sudah renta ini memulai menerjemahkan buku ke bahasa Inggris, mudah-mudahan saja mereka yang masih muda dan telah bisa menggunakan bahasa inggris ‘merasa malu’, dan mau melanjutkan mimpi saya, menerjemahkan buku-buku lokal ke dalam bahasa inggris, tutur pak Aki.

Kawan, aku akan selalu mencari tips-tips hidup dari manusia-manusia sukses, dan pastinya aku akan berbagi tentang semua itu hanya kepadamu kawan, nanti aku sambung lagi.

Dimulai dari ‘?’ diakhiri dengan ‘?’

Kehidupan manusia layaknya menumpangi gerbong kereta, dari stasiun awal ke stasiun akhir, dari satu titik sampai titik lainnya. Dimana penumpangnya selalu melihat kelebatan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah kereta, sinar itu ada yang terkena bagian tubuh seseorang juga ada yang lewat dengan sia-sia tanpa mengenai sesuatu apapun, hanya numpang lewat tanpa bekas, begitu juga kehidupan manusia yang seringkali terlintasi hikmah dari Tuhan, hikmah itu berpencaran bagai kelebatan cahaya matahari, akan tetapi tidak semua manusia mampu menangkap hikmah yang berserakan di jagat raya ini, beruntunglah bagi orang yang mampu mengambil hikmah disetiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya.

Waktu yang diberikan Tuhan kepada kita di dunia ini sangat singkat, setiap detiknya kita telah menghabiskan jatah hidup kita, setiap detiknya kita berubah. Kita diberi waktu untuk mewujudkan harapan, impian, dan tujuan menjadi kenyataan.

Kita sering bertanya “Mengapa kita ada disini?” atau “Mengapa hal ini bisa terjadi?” atau “Apa hikmah dari semua ini?”, bila anda pandai, bertanyalah “Apa yang bisa aku pelajari dari pengalaman ini?”

Kesuksesan hidup kita tergantung pada seberapa cepat kita meresapi pelajaran dan menerapkannya dalam hidup kita. Konsekuensinya bila kita menolak pelajaran itu, pelajaran itu akan terus diulang sampai kita memahaminya.Untuk seterusnya kita akan selalu diuji, kita akan mudah melewati ujian itu apabila kita benar-benar menguasai pelajaran itu. Dan selanjutnya kita akan mendapatkan pelajaran yag lebih rumit dan lebih menantang.

Kawan, aku akan berbagi cerita tentang diriku

Seringkali temanku bertanya “apa sebenarnya yang kamu cari?” karena sering kalinya temanku bertanya, dan seringkali aku memberikan jawaban yang tidak selesai, pertanyaan itu terekam kuat dalam alam bawah sadar yang terus mendorong saya mencari jawaban “apa yang sebenarnya aku cari?”

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “aku ini hidup sudah enak,orang tua dan keluarga masih lengkap dan mereka sangat menyayangiku, guru-guruku orang hebat tentunya kasih sayangnya tak bisa diragukan lagi, teman-temanku banyak dan baik pula, kehidupan ekonomiku cukup, kuliahku lancar tidak pernah ada kesulitan yang berarti, berorganisasi aku termasuk orang yang sukses, namun aku selalu bertanya, kenapa aku tidak bahagia? Kayaknya ada yang salah dalam hidupku?”

Kawan, pada waktu itu aku mencari jawaban “kenapa aku tidak bahagia?”. Akhirnya setiap liburan semesteran aku habiskan ditempat-tempat yang kuanggap akan memeberikan sesuatu yang aku cari. Mulai dari pesantren ciloa di Limbangan, Manisi Pagelaran di Subang, Pesantren Manon jaya di Tasikmalaya, Pesantren Sukahideng di Tasikmalaya. Pesantren al-Barokah Parompong di Bandung Barat. Pesantren Miftahul Ulum Perum Subang. Pesantren Miftahul Huda Rancasari Subang.

Februari 2006

Di ciloa- aku sebelum kuliah ikut mondok disini- yang aku anggap dulu aku bisa merasakan kebahagiaan selama mondok, aku bertanya-tanya, “perubahan apa yang terjadi pada sikapku, dulu aku bagaimana, sekarang aku bagaimana, apa yang kurang dengan sikapku sekarang?”

Diciloa itu ada Emang dan segala NU yang telah melembaga, Emang akan sangat antusias kalau aku bertanya tentang ini itu tentang NU, bahkan bisa sampai berjam-jam, aku faham, kenapa setiap santri ciloa merasa dirinyalah yang paling disayang sama Emang, karena Emang mencurahkan segala hidupnya untuk santri. Dulu aku heran kenapa Emang mau ngurus pesantren, padahal banyak tawaran bagi Emang untuk mendapatkan hal lebih dari kecerdasan dan gelar sarjana yang disandangnya. “Aku takut dengan sarung BHS” jawaban Emang yang simpel ketika ditawari tamu dari Jakarta untuk pindah mengurus suatu yayasan dengan luas tanah ratusan hektar. Ah Emang aku malu ngaku jadi santrimu.

Umi, ah aku malu bila harus ketemu Umi. Bagiku Umi mewakili gambaran perempuan seutuhnya perempuan Ciloa. Ibu biologis bagi enam anaknya, namun ibu pengayom bagi semua santri, dari mulai urusan logistik, kenyamanan, ketauladanan, pokoknya Diah Pitaloka pun akan tersipu malu bila diijinkan ketemu sama Umi.

Mang Aef, Saefudin Abdul Fatah, ah ga tau namanya yang bener mana, pokoknya aku manggilnya mang Aef. Banyak hal yang aku kagumi dari mang Aef, ulet, rajin, tanggap, leadership, pinter, selalu ingin jadi nomor satu. Cita-citanya jadi kiai punya pesntren, dan selama ini seluruh hidupnya dipersiapkan untuk itu, mulai dari membaca kitab, berceramah, sampai kuliah. Aku gak habis fikir, kenapa harus jadi kiai, emang sih selama ini budaya mengatakan bahwa orang yang baik itu ya kiai. Tapi konsekuensi jadi kiai itu harus melupakan sebagian besar dari kehdupan lain yang ada didunia ini. Pakaian dibatasi budaya, pergaulan dibatasi budaya, dan kenapa memilih jodoh juga harus dibatasi budaya??? Menurutku orang yang baik adalah orang bisa menjadikan banyak orang jadi baik he…. menjadi kiai bukan tidak penting, namun substansinya dakwah dan statusnya bisa jadi rakyat biasa tidak harus kiai.

Paling tidak hidupku bersentuhan dengan tiga orang itu selama di ciloa, aku dulu bahagia……. kira-kira karena aku berusaha untuk bersikap lebih baik setelah bersentuhan dengan Ciloa. Mungkin itu.

Masih di bulan februari, sebelum sampe ke rumah aku sempat menginap di rumah temen, di Manisi Pagelaran. Aku bersentuhan dengan sesuatu yang baru, orang tua yang luar biasa disamping segala keterbatasannya. Rumah yang sepi bersih di sekeliling sawah dan dekat mushala. Petani yang bisa memahami hidup, kayanya itulah sementara kata yang tepat untuk orang tua itu.

Pa Tani itu memang tidak mendapatkan pendidikan formal atau pun sempat nyantri di pesantren, namun aku justru belajar banyak pelajaran yang berharaga dan membekas dalam jiwa. Pa Tani itu telah mengalami mukasyafah, telah melihat langit yang lebih indah dari langit yang biasa kita lihat.

Kearifan yang dimiliki pak Tani didapat dari pemahaman yang sempurna atas segala pengalaman hidupnya, otodidak dan alamiah. ” Muslim anu bener kudu ngabersihken tina sagala panyakit, berewit, …….. eusian ku kaihklasan, kanyaah…….” kawan itulah konsep takhali dan tajali dalam tarekat tasawuf. Luar biasa dari kesederhanaan pola fikirnya pa Tani bisa bersikap bijak. Misal, sikapnya pa Tani pada cangkul. Setiap dibawa cangkul itu senantiasa di atas pundak, kemudian dicuci setelah dipakai, setelah selesai digantung ditempat yang tinggi. Perlakuan ini umum dilakukan para petani, cangkul dihormati dan dimuliakan, karena cangkul itu kehidupan, jiwa, nyawa petani. Pa Tani sadar betul bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada hasil bumi yang dengan alat cangkul bisa terpenuhi. (Paul Ricoeur)

Pa Tani ini selalu dawam dzikir, sempat aku hendak di kasih aurad, ah dasar aku sombong… “aku belum dikasih senang berdzikir, aku minta didu’akan saja pa….” mungkin pa Tani itu tidak pernah lepas berdzikir berangkat dari pemahaman akan hakikat hidup yang dialaminya.

Kawan, mungkin hal ini yang aku cari, tapi aku masih bingung….

ngaso heula dulur, insya Allah disambung deui

8 Komentar (+add yours?)

  1. Amar
    Jan 25, 2010 @ 15:23:47

    basi guus, harusnya pelajaran yg km ambil itu juga peringatan sama km bahwa km masih punya bnyk tanggung jawab ama tmn2 km hususnya,ngapain belajar bahasa inggris jauh2 belajar aja ama sulhan yg uda lulus dari smart sampai high class

    Balas

  2. Eva Nugraha
    Feb 15, 2010 @ 19:01:19

    Memaknai hidup. mengapa harus pake kata kerja dengan awalan me. “saya yakin bahwa banyak sekali kehidupan ini bila tidak dimaknai dia tidak akan ada apa-apanya”. saya yakin bahwa pengembaraan untuk memaknai hidup akan lebih bermakna, sebagai mana pengembaraan Nabi Ibrahim, dengan mempertanyakan Tuhan atau tuhan?
    Tulisan di atas, bagi saya, merupakan wujud berbagi contoh baik, semoga bisa endemic menjadi contoh yang baik.
    Gus jangan lupa ada wasiat lain yang juga, bisa jadi, akan melengkapi … KENAPA PAK TANI TADI BEGITU RAJIN, IKHLAS, TAKHALLI DAN TAJALLI? Saya yakin karena dia memiliki keluarga, ada istri, anak, saudara, cucu .. JANGAN LUPA ITU ADALAH MEDIUM UNTUK MENJAWAB KEBINGUNGAN … Saya yakin, … cogito ergo sum

    Balas

    • agusagusgun
      Feb 21, 2011 @ 13:09:09

      kata me……. itu luar biasa, kata Mario Teguh kata me itu bisa menjadi inspirasi buat bisnis, menolong, membantu, me-… lainnya.
      semua orang punya kisah unik dan indah dalam hidupnya, tapi hanya sedikit yang mau mengabadikan dng tulisan dan berbagi dengan yang lain, beruntunglah menjadi bagian orang yang sedikit tdi.
      iya, tapi tidak semua yg telah berkeluarga itu memahami cogito ergo sum

      terima kasih telah komen, walau pun aku baru tahu sekarang bisa mempostingnya he……..

      Balas

  3. nur_shine
    Jan 12, 2011 @ 11:00:25

    Tulisan tulisan anda menyentuh kefakiran saya akan ilmu dan hidup ini.. terima kasih.. smangat slalu..🙂

    Balas

    • agusagusgun
      Feb 14, 2011 @ 00:24:48

      terimakasih….tugas manusia adalah menjadi manusia, doakan saya supaya menjadi manusia

      Balas

  4. rhevieperry
    Jun 10, 2013 @ 13:50:12

    baru Tau kalo ada blognya..?
    biar ga kaku, Kangen abi ka CiLoa, komo mang Aef mah, mau Silaturahmi Tapi Malu- kesono cuma Ngliatin dari Warung Mang Jajang (mun teu salah)??
    Kumaha mang di Ditu, Kemajuan na Pesat nya..??
    Damel keun Facebook na Mang euy..??

    Balas

    • agusagusgun
      Jul 04, 2013 @ 06:15:18

      oh ameng atuh pami haol, ieu grup fb alumni https://www.facebook.com/groups/ikapaciloa/

      Balas

  5. Cerita Mawar Rumi | Agusagusgun's Blog
    Okt 26, 2013 @ 11:07:54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: