makam Syaikh Jafar Sidik

Cibiuk dan Makam Mbah Wali

Cibiuk sebuah daerah yang berada di Kabupaten Garut , menurut data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Cibiuk, secara demografi Cibiuk berada di kaki gunung Haruman, beriklim sejuk serta sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, dengan jumlah penduduknya 35.728 jiwa. Dalam bidang pendidikannya, Cibiuk tak ketinggalan jauh dengan Kecamatan lainya yang ada di Kabupaten Garut, cukup komplit mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, atau kejuruan. Begitupun dalam bidang sosial keagamaan, mayoritas masyarakat Cibiuk menganut agama Islam, dengan ditandai dengan banyaknya Pesantren dan berdirinya Masjid dikampung-kampung.[i]

Nama Cibiuk berasal dari sebuah surat yang ditujukan Syaikh Abdul Muhyi kepada Syaikh Ja’far Shadiq, suratnya berbunyi

حضرة الأخي السقيق جعفر صادق العورى في كالي باجين

Kalibacin, kali berarti air, sungai yang dalam masyarakat Sunda dikenal dengan Ci, Bacin berarti bau yang kemudian menjadi Biuk, maka Kalibacin dikenal menjadi Cibiuk, yang berarti “air bau”. Yakni di daerah Pasantren Tengah terdapat mata air yang airnya jernih namun ada sedikit bau tanah.[ii]

Nama Cibiuk tidak terpisah dari Komplek makam Keramat Haruman, Makam Syaikh Ja’far Shadiq penyebar agama Islam di daerah Jawa Barat. Syekh Ja’far Shadiq  berkiprah di Cibiuk dan sekitarnya kira-kira pada penghujung abad ke-18. Ada kisah yang populer di masyarakat, Konon Mbah Wali Syaikh Ja’far Shadiq, Syaikh Abdul Muhyi, dan Syaikh Maulana Mansur sering shalat di Mekkah bersama-sama.[iii] Berikut kisah Syaikh Ja’far Shadiq yang penulis peroleh dari Ajengan Encep:

Syaikh Maulana Mansur dikarunia karomah dengan nembus bumi,  Syaikh Abdul Muhyi dikarunia karomah dengan dengan menembus laut, Syaikh Ja’far Shadiq dikarunia karomah dengan lewat udara. Syaikh Maulana Mansur menembus bumi dari Mekkah dan keluar di Ciburial, Pandeglang, Banten, yang dinamakan Batu Qur’an. Suatu hari Syaikh Ja’far Shadiq dan Syaikh Abdul Muhyi berencana untuk pulang bareng dari Mekkah ke Pulau Jawa dan akan saling bertemu di Gunung Limbangan, (sekarang di dekat alun-alun ada sebuah batu). Syaikh Ja’far Shadiq telah sampai lebih dulu di Limbangan, tapi Syaikh Abdul Muhyi belum sampai, setelah lama menunggu tibalah Syaikh Abdul Muhyi. Dia minta maaf perihal keterlambatannya. Lalu bercerita sebab keterlambatannya, sewaktu saya menembus laut dan tiba di laut Haila saya menggigil dingin, oleh karenanya aku memutuskan untuk istirahat dan sekedar menghilangkan dingin saya menyalakan rokok, baru saja satu isapan tiba-tiba jalan yang tadinya terang menjadi gelap. Saya tersadar bahwa telah melakukan ke-makruh-an,[iv] lalu saya bertaubat kepada Allah atas kekhilafanku, selanjutnya jalan mulai terang kembali dan saya melanjutkan perjalan. Hingga saat ini di sekitar makam Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan ada larangan merokok.

Menurut cerita Embah Lembang memiliki Kuda Sembrani atau dalam mitologi Yunani dikenal dengan Pegassus, Kuda Sembrani ini adalah tunggangannya Embah Lembang yang digunakan untuk ber-uzlah atau berkontemplasi di udara. Menurut masyarakat sekitar, sampai sekarang banyak orang yang sering mendengar suara ringkikan kuda dan langkah lari kuda pada waktu tengah malam disekitar makam Embah Lembang.

Makam Embah Wali Syaikh Ja’far Shadiq bersama sanak keluarganya, termasuk Eyang Fatimah, dan Embah Lembang berada di salah satu bukit kecil di kala Gunung Haruman. Setiap bulan Mulud (Rabiul Awal) dan Rajab, makam Embah Wali Syekh Ja’far Shadiq  – yang bergelar Sunan Haruman – banyak dikunjungi peziarah dari mana-mana. Makam ini menjadi salah satu objek wisata ziarah terkemuka di Kab. Garut, selain Godog di Kec. Karang-pawitan.

Ziarah ke makam yang dilakukan orang Indonesia sebenarnya merupakan tradisi Hindu. Dalam agama Hindu tradisi pemujaan roh leluhur dan roh-roh orang suci merupakan suatu ajaran. Ini bisa dibuktikan dengan adanya peninggalan candi, candi pada awalnya merupakan tempat persemayaman abu jenazah raja atau orang suci yang dihormati umat Hindu. Dalam perkembangannya, tradisi Islam Jawa yang sangat dipengaruhi tradisi Hindu kemudian mengadopsi tradisi ziarah tersebut untuk menghormati orang-orang yang dipandang suci dan berkuasa.

Fungsi ziarah kubur dalam Islam untuk mengingatkan orang bahwa kehidupan itu ada akhirnya dan semua orang akan mati,[v] tapi dalam tradisi ziarah kubur orang jawa, fungsinya lebih kepada meminta “sesuatu” kepada roh suci yang ada pada makam tersebut. Kecendrungan tersebut masih ada walau sudah gencar para Kyai-jika peziarah dapat kesembuhan atau mendapat karomah sang Kyai-hal itu karena semata-mata karena Allah. Roh Kyai atau siapa pun tak dapat menyembuhkan.[vi] Jamhari Ma’ruf memberikan ilustrasi tentang peziarah yang datang ke makam, orang soleh yang diziarahi adalah orang yang senantiasa dikarunia berkah oleh Tuhan, bila diibaratan orang soleh itu gelas dan berkah itu adalah air, maka gelas itu selalu dialiri air sampai luber, nah peziarah itu adalah orang pencari luberan air itu.[vii]

Makam Embah Wali Syaikh Ja’far Shadiq di makam Haruman adalah makam yang banyak dikunjungi oleh peziarah, menurut informan makam ini menjadi tujuan berziarah para ahli hikmah.  Tradisi orang Indonesi untuk ziarah ke makam-makam para leluhur, wali, orang suci, dan tempat-tempat keramat sampai sekarang masih eksis. Walaupun tradisi tersebut merupakan warisan Hinduisme, tapi oleh masyarakat Indonesia tradisi tersebut telah diislamisasikan. Proses Islamisasi itu misalnya, dengan membaca surat al-Ikhlas, Salawat Nabi, membaca al-Qur’an di depan makam. Suasana ziarah seperti itu, jelas sangat romantis dan mengingatkan orang pada kehidupan manusia yang akan menghadapi kematian.