agusagusgun.wordpress.com

garut

Tradisi Besar Dan Tradisi Kecil (Robert Redfield, 1956)

Teori “Tradisi Besar dan Tradisi Kecil” diperkenalkan oleh antropolog bernama Robert Redfield (1956). Teori ini  banyak digunakan dalam studi-studi masyarakat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Teori ini dikutip oleh Bambang Pranowo dalam bukunya Memahami Islam Jawa:[i]

Dalam sebuah peradaban terdapat “tradisi besar” sejumlah kecil orang-orang reflektif, dan juga terdapat “tradisi kecil” sekian banyak orang-orang yang tidak reflektif. “tradisi besar” diolah dan dikembangkan di sekolah-sekolah atau kuil-kuil; “tradisi kecil” berjalan dan bertahan dalam kehidupan kalangan yang tidak berpendidikan dalam masyarakat-masyarakat desa. Tradisi filsuf, teolog, dan sastrawan adalah tradisi yang dikembangkan dan diwariskan secara sadar; sedangkan tradisi orang-orang kecil sebagian besar adalah hal-hal yang diterima apa adanya (taken for granted) dan tidak pernah diselidiki secara kritis ataupun dianggap patut diperbaiki dan diperbarui.

Clifford Geertz dalam beberapa penelitian terjebak ke dalam teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar). Sepanjang berkaitan dengan peradaban Islam, dalam pandangan Nakamura, perbedaan tajam antara tradisi besar dan tradisi kecil cenderung memaksakan pembatasan intelektual. Sebab dengan dikotomi demikian kita diantarkan kepada suatu asumsi tentang adanya semacam pembagian tugas yang sudah jelas, sehingga para pengamat dituntut hanya memfokuskan diri pada studi mengenai tradisi kecil dengan membebaskan diri dari kewajiban mempelajari tradisi besar dalam Islam seperti al-Qur’an, Hadith, serta teks lainnya. Padahal dalam kenyataannya sumber-sumber tersebut dipelajari secara aktif dan sangat sering dijadikan rujukan normatif oleh umat Islam.[ii]

Untuk memahami teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar) harus dipahami terlebih dahulu konsep tentang tradisi itu sendiri. Menurut Bambang Pranowo secara terminologis istilah tradisi mengandung pengertian tentang adanya kaitan antara masa lalu dengan masa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi hingga sekarang. Sewaktu orang bebicara tentang tradisi Sunda, secara tidak langsung dia sedang menguraikan serangkaian ajaran atau doktrin yang lahir dan dan dikembangkan sejak ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun yang lalu tetapi masih hadir dan tetap berfungsi dalam kehidupan sosial masa kini. Ajaran Sunda atau falsafah Sunda itu tetap hidup dan berfungsi hingga saat ini lantaran ada proses pewarisan sejak awal berdirinya, melewati berbagai kurun generasi dan diterima oleh generasi. Jadi menurut Bambang Pranowo tradisi dalam pengertian yang paling elementer yaitu sesuatu yang ditransmisikan dari masa lalu ke masa kini.[iii]

Setelah memahami makna tradisi, sekarang kita bisa menangkap kegunaan konsep teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar) yang dikembangkan oleh Redfield. Dengan konsep tersebut kita diajak memahami dinamika sosial budaya suatu kelompok masyarakat melalui pengamatan yang selektif terhadap tarik menarik, saling pengaruh, konflik, integrasi, maupun akomodasi antara dua arus utama tradisi.[iv]

Dalam penelitian ini penulis memilih  teori little tradition (tradisi kecil) dan great tradition (tradisi besar), karena penulis berasumsi bahwa Islam yang universal yang mewakili great tradition (tradisi besar) serta sambel Cibiuk dengan mitos makam keramat mewakili little tradition (tradisi kecil). Seperti yang dikemukakan oleh Von Grunebaum yang berpendapat bahwa Islam secara umum berada pada posisi tradisi besar, sementara tradisi kecil adalah tempat bagi arus dasar yang lebih merakyat. Tradisi kecil masih diketahui oleh kaum terpelajar, akan tetapi secara resmi ia diinkari atau dicela.[v]

Bedanya antara wartawan dan peneliti terletak pada cara mendapatkan informasi tentang objek kajian. Misalanya, bila terjadi konflik di suatu daerah wartawan akan segera meliput secepat mungkin di tempat konflik itu terjadi, sedangkan seorang peneliti akan segera pergi ke perpustakaan untuk mencari teori yang berkaitan dengan konflik yang terjadi, setelah menemukan teori yang dikira pas, seorang peneliti baru melakukan penelitian di tempat terjadinya konflik.

Tahun 2003 sampai dengan 2005 saya terdaftar sebagai santri di Pesantren Ciloa Balubur Limbangan Garut, pada waktu itu saya memiliki beberapa orang teman yang berasal dari  Cibiuk-sebuah kecamatan yang berjarak 2 kilometer dari pesantren Ciloa- ada hal yang unik setiap kami mengadakan botram [vi] santri dari Cibiuk lah yang disuruh membuat sambal, ternyata setelah diusut karena memang tradisi nyambel bagi orang Cibiuk adalah keharusan. Karena itulah ketika ditugaskan untuk melakukan penelitian Agama dan Budaya Loka mata kuliah yang diasuh Bambang Pranowo, secara terencana saya mengunjungi daerah Cibiuk, untuk wawancara dengan kuncen makam Haruman, Sesepuh Pasantren Tengah yang mempunyai silsilah Syaikh Ja’far Shadiq, dan Pengusaha Rumah  Makan sambel Cibiuk.

Akulturasi Budaya

Akulturasi adalah suatu proses di mana anggota-anggota dari suatu kelompok budaya menerima atau menuruti kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku kelompok yang lain. Biasanya kelompok minoritas menerima serta melaksanakan  kebiasaan dan gaya bahasa dari kelompok mayoritas (dominan). Namun, proses akulturasi tersebut akan dapat menguntungkan kedua belah pihak. Misalnya pihak mayoritas juga dapat menerima pola-pola tertentu dari kelompok minoritas. Asimilasi dari sesuatu kelompok budaya dapat dibuktikan pada perubahan bahasa, penilaian sikap-sikap dan nilai-nilai yang lazim digunakan, menjadi anggota dalam kelompok-kelompok dan institusi sosial dan tanpa melihat pada paham politik dan perbedaan suku dan bangsa.[vii]

Hazuda mengatakan bahwa akulturasi merupakan proses yang dialami oleh anggota sebuah kelompok budaya ketika menerima atau menuruti kepercayaan dan tingkah laku kelompok yang lain. Meskipun akulturasi selalu terjadi pada kelompok minoritas yang menuruti kebiasaan gaya bahasa dari kelompok dominan, akulturasi bisa terjadi secara timbal balik yaitu  kelompok dominan juga mengambil pola-pola khusus dari kelompok minoritas.[viii]

Berry berpendapat bahwa akulturasi adalah pertukaran budaya yang terjadi ketika kelompok yang senantiasa saling berhubungan secara terus menerus. Walaupun kedua kelompok tersebut memiliki model budaya asli, namun perubahan tetap akan terjadi. Namun kelompok tersebut tetap berbeda secara keseluruhan. Perbedaan-perbedaan dari penyebaran bisa terjadi secara sengaja atau terpaksa. Ini adalah mekanisme kedua dari perubahan budaya.[ix]

Jadi akulturasi adalah suatu proses yang dialami oleh anggota-anggota sebuah kelompok masyarakat budaya dalam menerima atau menganut kepercayaan dan tingkah laku kelompok lain. Kendati demikian, akulturasi biasanya terjadi pada sebuah kelompok minoritas yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan dan gaya bahasa kelompok mayoritas, akulturasi terjadi dua arah, yaitu kelompok mayoritas juga menjalankan pola-pola khusus dari kelompok minoritas.

Asal-mula kehadiran kuliner di setiap daerah tidak terlepas dari pengaruh budaya luar etnik lain, atau bisa juga merupakan pengetahuan asli warga. Denis Lombard, seorang penggagas teori “silang budaya” mungkin tidak melihat bahwa kuliner etnis di Jawa – khususnya di tatar Sunda – sangat  representatif dijadikan sebagai indikator telah terjadinya persilangan budaya. Sebab, etno-kuliner bisa menentukan identitas kebudayaan masyarakat lokal, termasuk Sunda; dan boleh jadi akan memengaruhi kebudayaan para pendatang.

Asimilasi yang dimaksud disini adalah Syaikh Ja’far Shadiq dalam dakwah Islamnya selain mengajarkan Syariat pokok Islam. Juga tata cara makan minum, agar sesuai dengan tuntunan Islam. Antara lain, makan-minum menggunakan tangan kanan, makan setelah terasa lapar dan berhenti makan jika akan kenyang. Sambel mentah yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda dipengaruhi oleh Syariat Islam, seperti makan dengan menggunakan tangan kanan, membaca basmalah sebelum makan, dan setelahnya dengan bacaan hamdallah.