Sambal Cibiuk dan mitos makam

kuliner Sambal

Historisitas Islam yang akulturatif terlihat jelas di dalam penyebaran Islam di Indonesia semenjak abad XIII, padahal masyarakat Indonesia terdiri dari ragam etnis dengan pola kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Sehingga sangat sulit didefinisakan ketika menyebut Islam Indonesia, istilah ini sangat bias sekali, karena didalamnya ada Islam Aceh, Islam Madura, Islam Sunda dan lain sebagainya. Misalakan Islam Aceh dan Islam Madura yang sama-sama konservatif namun tetap berbeda perilaku masyarakatnya, Muslim di Aceh egaliter sedangkan Muslim di Madura masih kental dengan feodal. Ini menandakan lingkungan budaya, historis, struktural tempat Islam itu berkembang sangat mempengaruhinya.[i]

Indonesia itu unik, antik dan menarik. Sehingga banyak peneliti yang datang ke Indonesia, diantaranya para antropolog. Sebut saja Clifford Geerts dengan teori trikotomi Santri, Priyayi, Abangan dalam Masyarakat Jawa, Hildred Geerts meneliti Keluarga Jawa,[ii]  Koentjaraningrat meneliti tentang Kebudayaan Jawa.[iii]

Dari ratusan daerah yang unik di Indonesia, daerah Sunda memiliki keunikan tersendiri, di setiap daerah Sunda pasti memiliki makanan kecil khas yang jadi primadona. Bahkan penanda eksistensi suatu daerah. Dari Garut kita akan mendengar panganan kecil bernama “dodol” yang merupakan salah satu ikon kebanggaan orang Sunda khususnya Garut. Awalnya kuliner khas Garut ini hasil kreasi Ibu Kursinah pada tahun 1926, sekarang dodol Garut tidaklah asing di telinga wisatawan domestik maupun mancanegara. Ketika berkunjung ke daerah Garut serasa tak lengkap kalau tak menenteng makanan khas yang dibuat dari bahan dasar beras ketan ini. Hebatnya lagi, sekarang dodol Garut bisa dijumpai di toko, supermarket, bahkan mall di daerah Bandung.[iv]

Menilik komposisi dan nama dodol Garut, umpamanya, saya yakin bahwa kuliner khas Jawa Barat ini – yang masih ditemukan di kampung –  adalah produk asli orang Sunda.  Ada pula kue tradisional yang biasa dihidangkan pada hajatan disekitar daerah Subang, diantaranya ranginang, kutumayang, dodol, ulen, legram, lapis, peuyeum ketan, opak bodas, opak beureum, awug serta banyak ragam kue lainnya. Sayangnya, dalam kajian antropologi, kita jarang meneliti asal-usul nama etno-kuliner, dan kaitannya dengan produksi budaya, sehingga muncul konotasi bahwa persilangan budaya hanya bisa terjadi di ranah kesenian. Misalnya kesenian Sunda yang banyak dipengaruhi oleh Jawa seperti, Wayang Golek Purwa yang dipengaruhi oleh Wayang Kulit Purwa yang lakonnya sama-sama dari khazanah Mahabarata dan Ramayana.[v]

Padahal, asal-mula kehadiran kuliner atau makanan khas di setiap daerah tidak terlepas dari pengaruh budaya luar etnik lain, atau bisa juga merupakan kreatifitas asli warga. Denis Lombard, seorang penggagas teori “silang budaya” mungkin tidak melihat bahwa kuliner etnis di Jawa – khususnya di tatar Sunda – sangat  representatif dijadikan sebagai indikator telah terjadinya persilangan budaya. Sebab, etno-kuliner bisa menentukan identitas kebudayaan masyarakat lokal, termasuk Sunda.[vi]

Di awal tahun 2011 ini muncul Franchise Rumah makan Sambel Cibiuk yang terus menggurita bermunculan di kota-kota besar di Indonesia. Sambel Cibiuk berasal dari daerah Garut yang bernama Cibiuk. Daerah ini memiliki nilai historis mengenai penyebaran Islam di Garut, Syaikh Jakfar Sahadiq adalah tokoh penyebar Islam di daerah ini. Dan uniknya keberadaan Sambel Cibiuk selalu dikaitkan dengan mitos makam Syaikh Ja’far Shadiq.

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat Sambel Cibiuk yang dilingkupi mitos makam keramat Mbah Wali Syaikh Ja’far Shadiq, keajegan dan perubahannya kearah komersialisasi mitos makam keramat.

Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis perlu mengidentifikasi beberapa masalah berikut untuk kemudian diteliti lebih lanjut:

  1. Bagaimana tradisi pembuatan Sambel di acara resepsi pernikahan masyarakat Cibiuk?
  2. Bagaimana akulturasi Islam terhadap kuliner Sambel Cibiuk?
  3. Bagaimana tradisi tersebut bertahan dan bagaimana perkembangannya ditengah perkembangan sosial sekarang ini?
  4. Apakah terjadi anomali teori tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk?

Kemudian penulis pada penelitian ini berfokus pada poin nomor 4, yakni apakah terjadi anomali tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk? pertanyaan tersebut penulis pilih karena menurut teori tradisi besar biasanya mempengaruhi tradisi kecil. Jika anomali tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk terjadi berdasarkan penelitian yang akan dilakukan, maka penelitian ini di samping menguji secara akademis teori tradisi besar dan tradisi kecil, juga menguatkan pendapat Bambang Pranowo mengenai terjadinya anomali teori tradisi besar dan tradisi kecil pada kasus makam Mbah Priok.[vii]

bersambung ….