Ilustrasi Salik Hitam

Rumi berkata “tidak mungkin memetik mawar dari M.A.W.A.R”, untuk mendapatkannnya Anda harus pergi ke Taman Bunga Nusantara atau kalo mau mudah pesan via online di BungaNusantara. Raron ingin tahu panasnya api, berputat-putar di pusaran api, bahkan terbakar hangus oleh api itu sendiri, dengan demikian Raron tahu panasnya Api.

Setidaknya itulah yang sering terngiang-ngiang di kepalaku setelah beberapa lama mengikuti kuliahnya Prof. Mulyadhi Kartanegara, membaca buku-bukunya, rasa penasaran it uterus merasuk ke dalam alam bawah sadarku, yang pada suatu titik mampu untuk menjadikan diri untuk mencari, pencarian yang panjang. Hal ini baru disadari, ketika ada temanku yang selalu bertanya, Apa yang kamu cari?

Salik Hitam

Suatu waktu aku berkunjung ke Ciloa, kebetulan hari jum’at, di masjid kaum bertemu seorang salik hitam-hitam, celana sarung hitam, baju lengan panjang hitam, kopeah Turki hitam, menggendong ransel hitam, pegang tongkat hitam berbendera kaligrafi Allah seperti group Band DEWA. Salik hitam ini menginap di kobong dua handap. Kami pun terlibat perbincangan panjang.

Salik hitam mengaku dirinya berencana jalan kaki keliling jawa-madura, menjiarahi para makam auliya atas izin gurunya di blok-M. Kalau ga salah waktu itu kami ngobrol bulan maret 2007, dia mulai berjalan dari blok-M tanggal 1 januari 2007 dengan rute Jakarta Selatan-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Padalarang-bandung- dan ketemu di Limbangan.

Salik hitam hanya semalam menginap di Ciloa, esok paginya dia meneruskan perjalanannya. Masih di tahun yang sama salik hitam ngasih kabar bahwa dirinya sudah nyampe Surabaya. Yang jelas ketemu salik ini membuat rasa penasaranku bertambah, tapi tidak tahu apa? Kemana? Pada siapa?

Kolektor Pedang

Awalnya diajak seorang teman untuk mengikuti pengajian sebuah komunitas, namun tidak begitu saja untuk memasuki sebuah komunitas ini harus ada perkenalan dulu, ramah tamah istilahnya. Maka saya dihadapkanlah ke seorang senior anggota komunitas ini. Aku pun bertamu ke rumahnya untuk menanyakan ihwal komunitas ini.

Obrolan pun di mulai dengan renyah dan hangat, karena ternyata senior ini bersuku Sunda, karena kebiasaan orang Sunda ketika ngobrol dengan orang baru dan satu suku biasa diawali dengan pancakaki. Tak lama senior ini kedatangan tamu juga, seorang teman akrabnya, beralihlah topic obrolan ke seputar pusaka, pedang bertuah, serta azimat-azimat.

Dari detik itu aku berpikir, bagaimana mana caranya berpamitan sesegera mungkin. Akhirnya dengan basa-basi ada jadwal kuliah sore, aku pun bisa berpamitan tanpa ada janji untuk bertamu lagi. Waktu itu aku berpikir, aku salah bertamu.