Waktu itu aku dipaksakan keadaan untuk berkunjung ke rumah Pak Aki, karena saya sudah janji bulan syawal akan berkunjung ke rumahnya. Dan hari itu aku berniat berangkat ke Jakart, karena masih suasana lebaran, jalanan macet, gak dapat bis, sejam kemudian aku putuskan balik arah ke Arah Tasik.
Menjelang dzuhur saya sudah berada di rumahnya, mesti nunggu sebentar karena pak Aki lagi mengajar. Tak lama kemudian sosok lelaki yang sekarang berumur 75 tahun itu datang dengan pakaian batik, peci hitam, celana coklat, bersepatu pantopel, serta tas hitam ditangannya.
Aku langsung disuruh masuk ke kamar beliau, setelah dipersilahkan duduk, Pak Aki lalu mencari kitab di rak buku yang berderet di tembok. Setelah itu beliau memberikan kitab “makanat al-dzikr baina al-ibadat” PDF-nya bisa download disini. Beliau berpesan, “nanti kalau ke Perpustakaan kampus cari kitab ini, lalu photo copy untuk koleksi, jangan mengkopi yang ini, hasilnya pasti jelek.”
Lantas aku sempatkan membaca beberapa halaman, karena penasaran kemudian aku bertanya, “apa inti yang bapak dapatkan dari kitab ini?” Buka halaman delapan di paragraph tengah yang ditandai pena! itu intinya.

Pak AkiSemakin penasaran, walau pun telah membaca, dan kutipan hadis di atas sering kali saya dapatkan. Namun biasanya Pak Aki punya makna esotoris dari teks-teks keagamaan. “Maksud paragraph ini bagaimana Pak?”
Sambil menghela napas, Pak aki bercerita “ Abah Anom pernah menyampaikan hadis ini tahun 1970-an, waktu itu perkataan abah Anom masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tidak nempel sedikit pun, baru kemaren 2011 Bapak baca kitab ini dan ketika buka halaman delapan, di paragraph ini, Bapak teringat omongan abah 40 tahun yang lalu. Selama 40 tahun saya tidak memahaminya, baru ke buka kemaren tahun 2012, sekarang saya sampaikan ka maneh.”
Tak sabar dengan penjelasan selanjutnya aku bertanya, “maksudnya kebuka gimana?” Sambil mengheula napas dalam-dalam pak Aki melanjutkan penjelasannya, “Ada dua tipe orang, Pertama orang belajar agama, kemudian melaksasanakan syariat, seperti shalat, zakat, puasa, bahkan menjadi ustadz. Orang ini dikatakanlah orang soleh dengan amalannya, maka ia mendapatkan apa yang dijanjikan Allah berupa pahala; Kedua Tipe orang yang mendahulukan rasa takut kepada Allah, karena rasa takutnya segala tindak-tanduknya menjadi waspada, bila makan selektif hanya yang benar-benar halal, berbicara tidak maksiat, mendengar hanya mendengar yang baik, jadi segala tindak-tanduknya terjaga. Nah orang yang kedua ini yang dimaksudkan oleh hadith qudsi:
“Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya,….. “

“Orang pertama mereka mendapatkan pahala seperti yang dijanjikan Allah, tapi terhijab bila tidak wara’ seperti tipe orang kedua. Tipe orang kedua inilah yang oleh Allah dibukakan hijabnya, sehingga inderanya tajam, jangankan bisikan mulut, bisikan hati bisa tahu.” Mudah-mudahan kita diketemukan dengan para guru Agung dan mudah-mudahan kita bisa mengikuti ajarannya. Wa Allahu a’lam.