Aku selalu teringat pernyataan pa Quraish “dibalik kesuksesan karir seorang suami ada istri yang mencintainya, dibalik kesuksesan wanita karir ada cinta yang gagal”. Kawan, terserah kamu setuju atau tidak? dalam tulisan ini aku tidak akan membahas kalimat kedua dari pernyataan tersebut, aku akan cerita Perjuangan seorang istri yang mendampingi suami sekolah.

Masih ingatkah kawan dengan Bapak Aki? ya seorang kakek berusia 72 tahun yang belajar Grammar, ternyata tiga bulan pertama bapak Aki belajar di Pare ditemani sang Istri. Ibu Hj. Siti Salbiyah namanya, ibu yang berusia 69 tahun ini sempat ngambil kursus speaking di global-e dan kursus grammar HP3 HP4 di Kresna, namun dengan pertimbangan tidak ada yang merawat rumah, maka ibu memilih pulang meninggalkan Pak Aki sendiri di Pare.

Ternyata hal itu bukan hal yang luar biasa bagi mereka berdua, karena sepanjang usia perkawinannya selama 52 tahun dihabiskan untuk sekolah dan terus sekolah. Waktu itu mereka berdua menikah setelah Pak Aki tamat Sekolah Rakyat (sekarang SD), pernikahan siti Nurbaya (dijodohin gitu). Pak aki yang berusia 19 tahun masih ingin melanjutkan sekolahnya, bimbang dengan perintah  orang tua untuk nikah, akhirnya dengan mantap pak Aki berani nikah dengan syarat setelah dinikahkan pak Aki minta agar mereka berdua dikirim ke Pesantren untuk belajar. Permintaan itu disetujui, lalu mereka dikirim ke Pesantren yang berbeda, ibu di Jombangan Pare Kediri selama 6 bulan dan satu tahun di Pondok-Beras Jombang , serta Pak Aki di pesantren lain.

“Selama 52 tahun ibu mah mendampingi suami dan anak-anak sekolah” tutur  Bu Salbiyah. Setelah setahun lebih mereka di Pesantren, mereka kembali ke Banjar untuk tinggal bersama dan ajaib Pak Aki mendadak bisa baca kitab. (ini tips bagi mereka yang ngaji ga bisa-bisa he….) Bisa membaca kitab Pak Aki pun mulai menekuni kitab kuning sendiri, namun karena warisan orang tua seorang petani, maka Pak Aki diberikan beberapa petak sawah untuk diolahnya sebagai bekal rumahtangganya. Merasa tak mampu dan tidak tahu menanam padi Pak Aki masuk Sekolah Pertanian selama tiga tahun, ilmu yang didapatkan di Sekolah Pertanian itu langsung di praktekan dan hasil panennya berlipat ganda melebihi hasil panen normal.

Bagi Pak Aki menjadi petani kaya bukanlah impiannya, hasil pertaniannya dijadikan bekal untuk meneruskan sekolah Pendidikan Guru (setingkat SMP) karena telah mengantongi ijazah Sekolah Pertanian Pak Aki langsung duduk di kelas 4 PG (normalnya empat tahun) dan setahun kemudian lulus, Ijazah yang dipegang Pak Aki waktu itu sudah cukup untuk menjadi PNS, tapi dengan dukungan Istri Pak Aki meneruskan ke PGA (Pendidikan Guru Agama), Pak Aki muda disela-sela kesibukan rutinitas belajar, dan bertani beliau mendirikan Madrasah Ibtida’iyyah (MI) di sekitar rumahnya, baginya ilmu itu harus terus disebarluaskan, dengan prinsif itu selang beberapa tahun Pak Aki telah mendirikan 20 MI di sekitar Banjar.

Kesuksesan luar biasa untuk seorang PNS dengan gaji rendah, tidak membuatnya cukup puas, mendengar informasi akan dibuka STAI Darussalam di Ciamis, secepat kilat Pak Aki mendaftarkan untuk menjadi Mahasiswa, “absennya aja 001” tutur Ibu Salbiyah. Selama dua tahun pulang-pergi Bajar-Ciamis dengan naik sepeda Pak Aki pun mendapat gelar Sarjana Muda (BA).

Cerita sekolahnya belum selesai kawan, dengan dukungan istri dan uang RP. 10.000 hasil menjual radio butut, Pak Aki naek sepeda ditemani ibu selama dua hari ke Cibiru Bandung, untuk mendaftar di Fakultas Syari’ah. Dua tahun kemudian Pak Aki menyandang gelar sarjana penuh (Drs.)

“Ibu mah menikmati betul mendampingi suami sekolah, Ibu merasa ikut bangga walaupun ibu sendiri   Cuma lulus SMP, Selama 52 tahun menemani bapak tak henti-hentinya ngurusin suami dan anak-anak sekolah.”

Kawan, energi itu tidak dapat dimusnahkan, dia akan terus memancar dari suatu bentuk ke bentuk lain. Begitulah energi belajar pak Aki memancar ke anak cucunya. Sekarang pak Aki memiliki 8 orang anak yang sudah sarjana, 5 orang diantaranya telah meraih gelar Master. Cucunya sebanyak 22 orang, satu orang telah menjadi sarjana. Yang menarik selain menyuruh anaknya terus sekolah beliau pun memperlakukan sama menantunya untuk melanjutkan pendidikannya.

Sekarang setujukah kau kawan, dengan pernyataan Pak Quraish? kamu tak harus lekas setuju, tapi renungkanlah siapa yang akan mendampingi hidupmu? mendampingi  sekolahmu?