Resolusi 2014

Tinggalkan komentar

Akhirnya sudah di penghujung tahun 2013, banyak hal yang harus di syukuri setahun kemarin, di tahun ini Putri pertama kami lahir Hana Tresna Lenita, seperti arti namanya, kehadirannya menjadikan menyatukan keluarga besar Bani Sumur Adem, Bani Rajab, dan Bani Limbangan, syukurlah mudah-mudahan keakraban kekeluargaan bisa terus terjalin, silsilah karuhun bisa dicatat dengan lengkap.

Hana Tresna Lenita

Lantas apa resolusi di tahun 2014? Bismillah Simpel saja isinya resolusi tahun kemaren yang belum terlaksana, yakni tamat Sekolah, ngurus Komunitas Saung Manggung ditambah buka toko asesoris seperti keinginan istriku, menghadiri undangan  tarbiyah ke Bogor dan paling urgent bikin Rumah untuk keluarga kecil kami.

Akhirnya Selamat Tahun Baru dan la haula wala quwwata illa billah

Sambel Cibiuk dan Mitos Makam Syaikh Ja’far Shadiq bag.5(habis)

Tinggalkan komentar

agusagusgun.wordpress.com

Sambel Cibiuk

Kompromi Mitos Makam dan Ekonomi Modern

Von Grunebaum berpendapat, Islam secara umum berada pada posisi tradisi besar, sementara tradisi kecil adalah tempat bagi arus dasar yang lebih merakyat. Tradisi kecil masih diketahui oleh kaum terpelajar, akan tetapi secara resmi ia diinkari atau dicela. Namun pada pembagian tradisi ini ada celah, sarjana humanistik mengkaji suatu tradisi dari atas, yakni mempelajari tradisi dari literatur, karya-karya seni kalangan terpelajar dari peradaban besar. Di sisi lain, para antropolog mempelajari realitas-realitas nyata dalam kehidupan sosio-kultural komunitas-komunitas kecil.

Sambel Indofood sebagai tradisi besar dan Sambel Cibiuk yang mewakili budaya lokal sebagai tradisi kecil tidak terpengaruh keberadaannya, malah mampu masuk internasional.

Rumah Makan Sambel Cibiuk dirintis oleh H. Iyus semenjak tahun 1999 terus menggurita menjadi besar, dan kini telah memiliki 43 outlet Sambel Cibiuk yang tersebar di 19 kota di Indonesia dengan sistem pengembangan company own unit, company sharing unit, dan Franchise, sehingga omset perbulannya mencapai Satu Milyar Rupiah.[i] Fenomena ini sangat unik, Sambel yang diliputi oleh Mitos Makam Keramat bisa masuk ke perdagangan modern. Ini merupakan sebuah anomali teori tradisi besar-tradisi kecil Robert Redfield (1956), dimana Sambel Cibiuk yang dilingkupi oleh mitos makam keramat yang mewakili tradisi kecil, mampu menembus perdagangan modern yang mewakili tradisi besar.

Kesimpulan 

Sambel Cibiuk yang tetap lestari di Masyarakat Cibiuk merupakan warisan turun temurun masyarakat setempat, ini merupakan warisan budaya yang tetap di pertahankan. Dalam perkembangannya tradisi membuat sambal Cibiuk dalam acara hajatan masih tetap dipertahanan, karena masyarakat Cibiuk merasa Sambel adalah bagian dari kehidupannya.

Pada kasus sambel Sambel Cibiuk terjadi anomali teori tradisi besar-tradisi kecil. Sambel Cibiuk yang diliputi oleh Mitos Makam Keramat bisa masuk ke perdagangan modern. Ini merupakan sebuah anomali teori tradisi besar-tradisi kecil Robert Redfield (1956), dimana Sambel Cibiuk yang kental dengan mitos makam keramat yang mewakili tradisi kecil, mampu menembus perdagangan modern dan sudah berkorporasi dengan pengelolaan Modern.

Sambel Cibiuk dan Mitos Makam Syaikh Ja’far Shadiq bag.4

Tinggalkan komentar

agusagusgun.wordpress.com

sambel cibiuk

Sambel Cibiuk Sarana Penyebaran Islam

Syaikh Ja’far Shadiq dalam dakwah Islamnya selain mengajarkan Syariat pokok Islam. Juga tata cara makan minum, agar sesuai dengan tuntunan Islam. Antara lain, makan-minum menggunakan tangan kanan, makan setelah terasa lapar dan berhenti makan jika akan kenyang. Sebelum menyuapkan makanan, dianjurkan membaca basmallah dan doa yang mengandung keharusan, setiap makanan benar-benar halal dan bersih (halalan t}ayyiban), baik jenisnya, maupun cara memperolehnya tidak mengandung keharaman.

Setelah selesai makan, dianjurkan membaca doa alh}amdulillah al-ladhi> at}’amana> wa saqana> waja’alna> muslimi>n. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum dan memasukkan kami ke dalam kelompok orang berserah diri. Ajaran-ajaran tersebut diberikan Embah Wali kepada tamu-tamunya yang datang berkunjung untuk menuntut ilmu. Setiap tamu pasti disambut baik. Disuguhi makan-minum. Salah seorang putri Embah Wali, bernama Fatimah, mendapat tugas membuat hidangan nasi akeul atau nasi liwet. Di antara lauk-pauk yang dihidangkan, selalu tersedia Sambel lengkap dengan lalapannya. Sambel istimewa yang kelak menyandang nama “Sambel Cibiuk” itu.[i]

Sambel Cibiuk biasa disediakan dalam hajatan perkawinan di masyarakat Cibiuk, biasanya si penyelenggara hajatan mengu

ndang seorang keturunan yang mempunyai resep Sambel Cibiuk untuk membuat empat jenis Sambel Cibiuk, yakni: Sambel Leunca tanpa terasi, Sambel terasi tomat hijau, Sambel Goang. Empat jenis Sambel tersebut adalah varian asli dari Eyang Siti Fatimah. Sekarang telah banyak varian kreasi dari pemilik restoran, seperti Sambel Udang. Ada mitos yang sangat terkenal dalam pembuatan Sambel Cibiuk “sok sanajan bahan sambelna sami, tapi pami sanes urang cibiuk asli mah rasa na moal sami.”  Orang yang paling ahli membuat Sambel Cibiuk hanya orang Cibiuk asli, walau pun bahan dan cara pengolahannya sama, tapi kalau bukan orang Cibiuk asli yang membuatnya rasanya akan tidak sama.

Makam Eyang Siti Fatimah yang terletak di komplek makam keramat Haruman, juga sering dikunjungi para pengusaha restoran dengan tujuan untuk kesuksesan usahanya. Apabila si Penziarah menemukan buah lombok merah berjumlah ganjil 3, 5, 7, atau 9 pada pohon sekitar makam Eyang Siti Fatimah, maka lombok tersebut digunakan sebagai benih dan dipercaya memiliki tuah untuk kesuksesan usaha restoran. Tapi kalau hanya menemukan satu lombok merah berarti belum bertuah, ini diyakini  aurad atau wirid-nya ada yang kurang.

Cita rasa yang muncul dari paduan bumbu-bumbu terasi putih, cabai rawit hijau, tomat mentah / tomat hijau untuk sambel hijau, tomat merah untuk sambel merah, ditambah gula dan garam, daun kemangi, bawang merah, bawang putih, dan asem kawak mampu mengugah selera tersendiri. Mengundang sensasi khas bagi perut lapar  dan sepedas apa pun, Sambel Cibiuk tak pernah mengakibatkan sakit perut.[ii]

Hampir masakan Indonesia ada unsur cabe yang menimbulkan rasa sensasional. Sambel berfungsi sebagai pelengkap masakan yang memiliki peran penting. Tanpa Sambel masakan jadi terasa tidak memiliki arti apa pun. Jenis sambel di Indonesia sangat beragam mulai dari sambel ulek, pecel, kecap, dadakan, tomat, terasi, dabu-dabu, dan aneka sambel lainnya yang jumlahnya ratusan. Boleh dibilang untuk mengetahui ciri khas Indonesia saat makan adalah “kepedasan” sambil berkeringat.[iii] Diantara sambel yang ada di Indonesia, sambel Cibiuk satu-satunya sambel yang dilingkupi dengan mitos makam keramat dan sejarah penyebaran Islam.

 

Sambel Cibiuk dan Mitos Makam Syaikh Ja’far Shadiq bag.3

Tinggalkan komentar

makam Syaikh Jafar Sidik

Cibiuk dan Makam Mbah Wali

Cibiuk sebuah daerah yang berada di Kabupaten Garut , menurut data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Cibiuk, secara demografi Cibiuk berada di kaki gunung Haruman, beriklim sejuk serta sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, dengan jumlah penduduknya 35.728 jiwa. Dalam bidang pendidikannya, Cibiuk tak ketinggalan jauh dengan Kecamatan lainya yang ada di Kabupaten Garut, cukup komplit mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, atau kejuruan. Begitupun dalam bidang sosial keagamaan, mayoritas masyarakat Cibiuk menganut agama Islam, dengan ditandai dengan banyaknya Pesantren dan berdirinya Masjid dikampung-kampung.[i]

Nama Cibiuk berasal dari sebuah surat yang ditujukan Syaikh Abdul Muhyi kepada Syaikh Ja’far Shadiq, suratnya berbunyi

حضرة الأخي السقيق جعفر صادق العورى في كالي باجين

Kalibacin, kali berarti air, sungai yang dalam masyarakat Sunda dikenal dengan Ci, Bacin berarti bau yang kemudian menjadi Biuk, maka Kalibacin dikenal menjadi Cibiuk, yang berarti “air bau”. Yakni di daerah Pasantren Tengah terdapat mata air yang airnya jernih namun ada sedikit bau tanah.[ii]

Nama Cibiuk tidak terpisah dari Komplek makam Keramat Haruman, Makam Syaikh Ja’far Shadiq penyebar agama Islam di daerah Jawa Barat. Syekh Ja’far Shadiq  berkiprah di Cibiuk dan sekitarnya kira-kira pada penghujung abad ke-18. Ada kisah yang populer di masyarakat, Konon Mbah Wali Syaikh Ja’far Shadiq, Syaikh Abdul Muhyi, dan Syaikh Maulana Mansur sering shalat di Mekkah bersama-sama.[iii] Berikut kisah Syaikh Ja’far Shadiq yang penulis peroleh dari Ajengan Encep:

Syaikh Maulana Mansur dikarunia karomah dengan nembus bumi,  Syaikh Abdul Muhyi dikarunia karomah dengan dengan menembus laut, Syaikh Ja’far Shadiq dikarunia karomah dengan lewat udara. Syaikh Maulana Mansur menembus bumi dari Mekkah dan keluar di Ciburial, Pandeglang, Banten, yang dinamakan Batu Qur’an. Suatu hari Syaikh Ja’far Shadiq dan Syaikh Abdul Muhyi berencana untuk pulang bareng dari Mekkah ke Pulau Jawa dan akan saling bertemu di Gunung Limbangan, (sekarang di dekat alun-alun ada sebuah batu). Syaikh Ja’far Shadiq telah sampai lebih dulu di Limbangan, tapi Syaikh Abdul Muhyi belum sampai, setelah lama menunggu tibalah Syaikh Abdul Muhyi. Dia minta maaf perihal keterlambatannya. Lalu bercerita sebab keterlambatannya, sewaktu saya menembus laut dan tiba di laut Haila saya menggigil dingin, oleh karenanya aku memutuskan untuk istirahat dan sekedar menghilangkan dingin saya menyalakan rokok, baru saja satu isapan tiba-tiba jalan yang tadinya terang menjadi gelap. Saya tersadar bahwa telah melakukan ke-makruh-an,[iv] lalu saya bertaubat kepada Allah atas kekhilafanku, selanjutnya jalan mulai terang kembali dan saya melanjutkan perjalan. Hingga saat ini di sekitar makam Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan ada larangan merokok.

Menurut cerita Embah Lembang memiliki Kuda Sembrani atau dalam mitologi Yunani dikenal dengan Pegassus, Kuda Sembrani ini adalah tunggangannya Embah Lembang yang digunakan untuk ber-uzlah atau berkontemplasi di udara. Menurut masyarakat sekitar, sampai sekarang banyak orang yang sering mendengar suara ringkikan kuda dan langkah lari kuda pada waktu tengah malam disekitar makam Embah Lembang.

Makam Embah Wali Syaikh Ja’far Shadiq bersama sanak keluarganya, termasuk Eyang Fatimah, dan Embah Lembang berada di salah satu bukit kecil di kala Gunung Haruman. Setiap bulan Mulud (Rabiul Awal) dan Rajab, makam Embah Wali Syekh Ja’far Shadiq  – yang bergelar Sunan Haruman – banyak dikunjungi peziarah dari mana-mana. Makam ini menjadi salah satu objek wisata ziarah terkemuka di Kab. Garut, selain Godog di Kec. Karang-pawitan.

Ziarah ke makam yang dilakukan orang Indonesia sebenarnya merupakan tradisi Hindu. Dalam agama Hindu tradisi pemujaan roh leluhur dan roh-roh orang suci merupakan suatu ajaran. Ini bisa dibuktikan dengan adanya peninggalan candi, candi pada awalnya merupakan tempat persemayaman abu jenazah raja atau orang suci yang dihormati umat Hindu. Dalam perkembangannya, tradisi Islam Jawa yang sangat dipengaruhi tradisi Hindu kemudian mengadopsi tradisi ziarah tersebut untuk menghormati orang-orang yang dipandang suci dan berkuasa.

Fungsi ziarah kubur dalam Islam untuk mengingatkan orang bahwa kehidupan itu ada akhirnya dan semua orang akan mati,[v] tapi dalam tradisi ziarah kubur orang jawa, fungsinya lebih kepada meminta “sesuatu” kepada roh suci yang ada pada makam tersebut. Kecendrungan tersebut masih ada walau sudah gencar para Kyai-jika peziarah dapat kesembuhan atau mendapat karomah sang Kyai-hal itu karena semata-mata karena Allah. Roh Kyai atau siapa pun tak dapat menyembuhkan.[vi] Jamhari Ma’ruf memberikan ilustrasi tentang peziarah yang datang ke makam, orang soleh yang diziarahi adalah orang yang senantiasa dikarunia berkah oleh Tuhan, bila diibaratan orang soleh itu gelas dan berkah itu adalah air, maka gelas itu selalu dialiri air sampai luber, nah peziarah itu adalah orang pencari luberan air itu.[vii]

Makam Embah Wali Syaikh Ja’far Shadiq di makam Haruman adalah makam yang banyak dikunjungi oleh peziarah, menurut informan makam ini menjadi tujuan berziarah para ahli hikmah.  Tradisi orang Indonesi untuk ziarah ke makam-makam para leluhur, wali, orang suci, dan tempat-tempat keramat sampai sekarang masih eksis. Walaupun tradisi tersebut merupakan warisan Hinduisme, tapi oleh masyarakat Indonesia tradisi tersebut telah diislamisasikan. Proses Islamisasi itu misalnya, dengan membaca surat al-Ikhlas, Salawat Nabi, membaca al-Qur’an di depan makam. Suasana ziarah seperti itu, jelas sangat romantis dan mengingatkan orang pada kehidupan manusia yang akan menghadapi kematian.

Sambel Cibiuk dan Mitos Makam Syaikh Ja’far Shadiq bag.2

Tinggalkan komentar

agusagusgun.wordpress.com

garut

Tradisi Besar Dan Tradisi Kecil (Robert Redfield, 1956)

Teori “Tradisi Besar dan Tradisi Kecil” diperkenalkan oleh antropolog bernama Robert Redfield (1956). Teori ini  banyak digunakan dalam studi-studi masyarakat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Teori ini dikutip oleh Bambang Pranowo dalam bukunya Memahami Islam Jawa:[i]

Dalam sebuah peradaban terdapat “tradisi besar” sejumlah kecil orang-orang reflektif, dan juga terdapat “tradisi kecil” sekian banyak orang-orang yang tidak reflektif. “tradisi besar” diolah dan dikembangkan di sekolah-sekolah atau kuil-kuil; “tradisi kecil” berjalan dan bertahan dalam kehidupan kalangan yang tidak berpendidikan dalam masyarakat-masyarakat desa. Tradisi filsuf, teolog, dan sastrawan adalah tradisi yang dikembangkan dan diwariskan secara sadar; sedangkan tradisi orang-orang kecil sebagian besar adalah hal-hal yang diterima apa adanya (taken for granted) dan tidak pernah diselidiki secara kritis ataupun dianggap patut diperbaiki dan diperbarui.

Clifford Geertz dalam beberapa penelitian terjebak ke dalam teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar). Sepanjang berkaitan dengan peradaban Islam, dalam pandangan Nakamura, perbedaan tajam antara tradisi besar dan tradisi kecil cenderung memaksakan pembatasan intelektual. Sebab dengan dikotomi demikian kita diantarkan kepada suatu asumsi tentang adanya semacam pembagian tugas yang sudah jelas, sehingga para pengamat dituntut hanya memfokuskan diri pada studi mengenai tradisi kecil dengan membebaskan diri dari kewajiban mempelajari tradisi besar dalam Islam seperti al-Qur’an, Hadith, serta teks lainnya. Padahal dalam kenyataannya sumber-sumber tersebut dipelajari secara aktif dan sangat sering dijadikan rujukan normatif oleh umat Islam.[ii]

Untuk memahami teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar) harus dipahami terlebih dahulu konsep tentang tradisi itu sendiri. Menurut Bambang Pranowo secara terminologis istilah tradisi mengandung pengertian tentang adanya kaitan antara masa lalu dengan masa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi hingga sekarang. Sewaktu orang bebicara tentang tradisi Sunda, secara tidak langsung dia sedang menguraikan serangkaian ajaran atau doktrin yang lahir dan dan dikembangkan sejak ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun yang lalu tetapi masih hadir dan tetap berfungsi dalam kehidupan sosial masa kini. Ajaran Sunda atau falsafah Sunda itu tetap hidup dan berfungsi hingga saat ini lantaran ada proses pewarisan sejak awal berdirinya, melewati berbagai kurun generasi dan diterima oleh generasi. Jadi menurut Bambang Pranowo tradisi dalam pengertian yang paling elementer yaitu sesuatu yang ditransmisikan dari masa lalu ke masa kini.[iii]

Setelah memahami makna tradisi, sekarang kita bisa menangkap kegunaan konsep teori little tradition (tradisi kecil) daripada great tradition (tradisi besar) yang dikembangkan oleh Redfield. Dengan konsep tersebut kita diajak memahami dinamika sosial budaya suatu kelompok masyarakat melalui pengamatan yang selektif terhadap tarik menarik, saling pengaruh, konflik, integrasi, maupun akomodasi antara dua arus utama tradisi.[iv]

Dalam penelitian ini penulis memilih  teori little tradition (tradisi kecil) dan great tradition (tradisi besar), karena penulis berasumsi bahwa Islam yang universal yang mewakili great tradition (tradisi besar) serta sambel Cibiuk dengan mitos makam keramat mewakili little tradition (tradisi kecil). Seperti yang dikemukakan oleh Von Grunebaum yang berpendapat bahwa Islam secara umum berada pada posisi tradisi besar, sementara tradisi kecil adalah tempat bagi arus dasar yang lebih merakyat. Tradisi kecil masih diketahui oleh kaum terpelajar, akan tetapi secara resmi ia diinkari atau dicela.[v]

Bedanya antara wartawan dan peneliti terletak pada cara mendapatkan informasi tentang objek kajian. Misalanya, bila terjadi konflik di suatu daerah wartawan akan segera meliput secepat mungkin di tempat konflik itu terjadi, sedangkan seorang peneliti akan segera pergi ke perpustakaan untuk mencari teori yang berkaitan dengan konflik yang terjadi, setelah menemukan teori yang dikira pas, seorang peneliti baru melakukan penelitian di tempat terjadinya konflik.

Tahun 2003 sampai dengan 2005 saya terdaftar sebagai santri di Pesantren Ciloa Balubur Limbangan Garut, pada waktu itu saya memiliki beberapa orang teman yang berasal dari  Cibiuk-sebuah kecamatan yang berjarak 2 kilometer dari pesantren Ciloa- ada hal yang unik setiap kami mengadakan botram [vi] santri dari Cibiuk lah yang disuruh membuat sambal, ternyata setelah diusut karena memang tradisi nyambel bagi orang Cibiuk adalah keharusan. Karena itulah ketika ditugaskan untuk melakukan penelitian Agama dan Budaya Loka mata kuliah yang diasuh Bambang Pranowo, secara terencana saya mengunjungi daerah Cibiuk, untuk wawancara dengan kuncen makam Haruman, Sesepuh Pasantren Tengah yang mempunyai silsilah Syaikh Ja’far Shadiq, dan Pengusaha Rumah  Makan sambel Cibiuk.

Akulturasi Budaya

Akulturasi adalah suatu proses di mana anggota-anggota dari suatu kelompok budaya menerima atau menuruti kepercayaan-kepercayaan dan tingkah laku kelompok yang lain. Biasanya kelompok minoritas menerima serta melaksanakan  kebiasaan dan gaya bahasa dari kelompok mayoritas (dominan). Namun, proses akulturasi tersebut akan dapat menguntungkan kedua belah pihak. Misalnya pihak mayoritas juga dapat menerima pola-pola tertentu dari kelompok minoritas. Asimilasi dari sesuatu kelompok budaya dapat dibuktikan pada perubahan bahasa, penilaian sikap-sikap dan nilai-nilai yang lazim digunakan, menjadi anggota dalam kelompok-kelompok dan institusi sosial dan tanpa melihat pada paham politik dan perbedaan suku dan bangsa.[vii]

Hazuda mengatakan bahwa akulturasi merupakan proses yang dialami oleh anggota sebuah kelompok budaya ketika menerima atau menuruti kepercayaan dan tingkah laku kelompok yang lain. Meskipun akulturasi selalu terjadi pada kelompok minoritas yang menuruti kebiasaan gaya bahasa dari kelompok dominan, akulturasi bisa terjadi secara timbal balik yaitu  kelompok dominan juga mengambil pola-pola khusus dari kelompok minoritas.[viii]

Berry berpendapat bahwa akulturasi adalah pertukaran budaya yang terjadi ketika kelompok yang senantiasa saling berhubungan secara terus menerus. Walaupun kedua kelompok tersebut memiliki model budaya asli, namun perubahan tetap akan terjadi. Namun kelompok tersebut tetap berbeda secara keseluruhan. Perbedaan-perbedaan dari penyebaran bisa terjadi secara sengaja atau terpaksa. Ini adalah mekanisme kedua dari perubahan budaya.[ix]

Jadi akulturasi adalah suatu proses yang dialami oleh anggota-anggota sebuah kelompok masyarakat budaya dalam menerima atau menganut kepercayaan dan tingkah laku kelompok lain. Kendati demikian, akulturasi biasanya terjadi pada sebuah kelompok minoritas yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan dan gaya bahasa kelompok mayoritas, akulturasi terjadi dua arah, yaitu kelompok mayoritas juga menjalankan pola-pola khusus dari kelompok minoritas.

Asal-mula kehadiran kuliner di setiap daerah tidak terlepas dari pengaruh budaya luar etnik lain, atau bisa juga merupakan pengetahuan asli warga. Denis Lombard, seorang penggagas teori “silang budaya” mungkin tidak melihat bahwa kuliner etnis di Jawa – khususnya di tatar Sunda – sangat  representatif dijadikan sebagai indikator telah terjadinya persilangan budaya. Sebab, etno-kuliner bisa menentukan identitas kebudayaan masyarakat lokal, termasuk Sunda; dan boleh jadi akan memengaruhi kebudayaan para pendatang.

Asimilasi yang dimaksud disini adalah Syaikh Ja’far Shadiq dalam dakwah Islamnya selain mengajarkan Syariat pokok Islam. Juga tata cara makan minum, agar sesuai dengan tuntunan Islam. Antara lain, makan-minum menggunakan tangan kanan, makan setelah terasa lapar dan berhenti makan jika akan kenyang. Sambel mentah yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda dipengaruhi oleh Syariat Islam, seperti makan dengan menggunakan tangan kanan, membaca basmalah sebelum makan, dan setelahnya dengan bacaan hamdallah.

Sambel Cibiuk dan Mitos Makam Syaikh Ja’far Shadiq bag I.

Tinggalkan komentar

Sambal Cibiuk dan mitos makam

kuliner Sambal

Historisitas Islam yang akulturatif terlihat jelas di dalam penyebaran Islam di Indonesia semenjak abad XIII, padahal masyarakat Indonesia terdiri dari ragam etnis dengan pola kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Sehingga sangat sulit didefinisakan ketika menyebut Islam Indonesia, istilah ini sangat bias sekali, karena didalamnya ada Islam Aceh, Islam Madura, Islam Sunda dan lain sebagainya. Misalakan Islam Aceh dan Islam Madura yang sama-sama konservatif namun tetap berbeda perilaku masyarakatnya, Muslim di Aceh egaliter sedangkan Muslim di Madura masih kental dengan feodal. Ini menandakan lingkungan budaya, historis, struktural tempat Islam itu berkembang sangat mempengaruhinya.[i]

Indonesia itu unik, antik dan menarik. Sehingga banyak peneliti yang datang ke Indonesia, diantaranya para antropolog. Sebut saja Clifford Geerts dengan teori trikotomi Santri, Priyayi, Abangan dalam Masyarakat Jawa, Hildred Geerts meneliti Keluarga Jawa,[ii]  Koentjaraningrat meneliti tentang Kebudayaan Jawa.[iii]

Dari ratusan daerah yang unik di Indonesia, daerah Sunda memiliki keunikan tersendiri, di setiap daerah Sunda pasti memiliki makanan kecil khas yang jadi primadona. Bahkan penanda eksistensi suatu daerah. Dari Garut kita akan mendengar panganan kecil bernama “dodol” yang merupakan salah satu ikon kebanggaan orang Sunda khususnya Garut. Awalnya kuliner khas Garut ini hasil kreasi Ibu Kursinah pada tahun 1926, sekarang dodol Garut tidaklah asing di telinga wisatawan domestik maupun mancanegara. Ketika berkunjung ke daerah Garut serasa tak lengkap kalau tak menenteng makanan khas yang dibuat dari bahan dasar beras ketan ini. Hebatnya lagi, sekarang dodol Garut bisa dijumpai di toko, supermarket, bahkan mall di daerah Bandung.[iv]

Menilik komposisi dan nama dodol Garut, umpamanya, saya yakin bahwa kuliner khas Jawa Barat ini – yang masih ditemukan di kampung –  adalah produk asli orang Sunda.  Ada pula kue tradisional yang biasa dihidangkan pada hajatan disekitar daerah Subang, diantaranya ranginang, kutumayang, dodol, ulen, legram, lapis, peuyeum ketan, opak bodas, opak beureum, awug serta banyak ragam kue lainnya. Sayangnya, dalam kajian antropologi, kita jarang meneliti asal-usul nama etno-kuliner, dan kaitannya dengan produksi budaya, sehingga muncul konotasi bahwa persilangan budaya hanya bisa terjadi di ranah kesenian. Misalnya kesenian Sunda yang banyak dipengaruhi oleh Jawa seperti, Wayang Golek Purwa yang dipengaruhi oleh Wayang Kulit Purwa yang lakonnya sama-sama dari khazanah Mahabarata dan Ramayana.[v]

Padahal, asal-mula kehadiran kuliner atau makanan khas di setiap daerah tidak terlepas dari pengaruh budaya luar etnik lain, atau bisa juga merupakan kreatifitas asli warga. Denis Lombard, seorang penggagas teori “silang budaya” mungkin tidak melihat bahwa kuliner etnis di Jawa – khususnya di tatar Sunda – sangat  representatif dijadikan sebagai indikator telah terjadinya persilangan budaya. Sebab, etno-kuliner bisa menentukan identitas kebudayaan masyarakat lokal, termasuk Sunda.[vi]

Di awal tahun 2011 ini muncul Franchise Rumah makan Sambel Cibiuk yang terus menggurita bermunculan di kota-kota besar di Indonesia. Sambel Cibiuk berasal dari daerah Garut yang bernama Cibiuk. Daerah ini memiliki nilai historis mengenai penyebaran Islam di Garut, Syaikh Jakfar Sahadiq adalah tokoh penyebar Islam di daerah ini. Dan uniknya keberadaan Sambel Cibiuk selalu dikaitkan dengan mitos makam Syaikh Ja’far Shadiq.

 

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat Sambel Cibiuk yang dilingkupi mitos makam keramat Mbah Wali Syaikh Ja’far Shadiq, keajegan dan perubahannya kearah komersialisasi mitos makam keramat.

Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis perlu mengidentifikasi beberapa masalah berikut untuk kemudian diteliti lebih lanjut:

  1. Bagaimana tradisi pembuatan Sambel di acara resepsi pernikahan masyarakat Cibiuk?
  2. Bagaimana akulturasi Islam terhadap kuliner Sambel Cibiuk?
  3. Bagaimana tradisi tersebut bertahan dan bagaimana perkembangannya ditengah perkembangan sosial sekarang ini?
  4. Apakah terjadi anomali teori tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk?

Kemudian penulis pada penelitian ini berfokus pada poin nomor 4, yakni apakah terjadi anomali tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk? pertanyaan tersebut penulis pilih karena menurut teori tradisi besar biasanya mempengaruhi tradisi kecil. Jika anomali tradisi besar dan tradisi kecil, pada kasus komersialisasi sambel Cibiuk terjadi berdasarkan penelitian yang akan dilakukan, maka penelitian ini di samping menguji secara akademis teori tradisi besar dan tradisi kecil, juga menguatkan pendapat Bambang Pranowo mengenai terjadinya anomali teori tradisi besar dan tradisi kecil pada kasus makam Mbah Priok.[vii]

bersambung ….

Sepasang Sayap

Tinggalkan komentar

Sepasang Sayap Terbang Tinggi

“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung… Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali” ~Soekarno~

Berbahagialah bagi mereka yang telah memiliki pasangan dalam hidup, karena mereka termasuk yang disegerakan oleh Tuhan untuk mencapai mimpi-mimpinya. Karena seorang manusia punya rencana, cita-cita, perencanaan dan usaha yang dilakukan, dan Tuhan yang meng-amini-nya. Skenarionya seperti itu, seperti seorang kakek tua yang bercita-cita menjadikan Suryalaya menjadi pusat tasawuf se-Asia.

Dia pergi ke pare dengan istrinya (masing-masing berusia 72-65 tahun) untuk belajar bahasa Inggris. Walaupun dunia berkata impossible, tapi karena kehidupan telah mengajarkan kepada mereka selama setengah abad berkeluraga “tak ada yang mustahil jika pasangan ini punya keinginan baik”. Sekarang di usianya yang genap 75 tahun, kedua pasangan nenek-kakek peraih penghargaan keluarga sakinah ini telah memiliki lembaga Pendidikan Bahasa Asing di rumahnya. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, nanti akan dibuka juga untuk Bahasa Mandarin.

Bagaimana mewujudkan mimpi dengan pasanganmu kawan? Tentunya bukan hal sulit bila benar melakukannya. Mulai saja dengan berbicara secara serius dengan pasangan Anda, bicarkan tentang pencapaian karir yang Anda inginkan, kemudian dengarkan pula keinginan pasangan Anda, toh nanti juga bisa dipertemukan pencapaian ideal keluarga Anda.

Percayalah ucapan bung karno, “… Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya…”  begitu pun Anda dan keluarga akan lebih sukses apabila ditemani seorang istri yang setia, dan tak sebaliknya.

Older Entries