Oleh: Agus Gunawan

I. Mengenal Penulis

Tafsir ini adalah sebuah karya bersama para ulama dan para cendikiawan Indonesia. Tim ini terbentuk berdasarkan SK. Menteri Agama No. 90 tahun 1972, kemudian terbit lagi KMA No. 8 tahun 1973 untuk menyempurnakan KMA tahun 1972. Tim ini akhirnya dinamakan sebagai Dewan Penyelenggaraan Tafsir Alquran yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H. dengan anggota terdiri 15 orang. Mereka adalah (tanpa titel) Ibrahim Hosein, Syukri Ghazali, Hoesin Thoib, Bustami Abd. Ghani, Mukhtar Yahya, Kamal Mukhtar, Anwar Musaddad, Sapari, Salim Fakhri, Mukhtar Luthfi Anshari, Badudu, Amin Nashir, Aziz Darmawijaya, Nur Asyik, A. Razak.[1]

Mengenai biografi tim penyusun tersebut penulis kesulitan mendapatkan informasi biografi tim penyusun Tafsir Depag, namun usaha kami mulai menemui titik terang setelah mewawancarai Thanthawi Jauhari Musaddad putra Anwar Musaddad via telpon.[2]

Prof. K.H. Anwar Musyaddad

Anwar Musaddad sewaktu masih kecil Anwar Musaddad dikenal dengan Dede Masdiad. Lahir di Garut tanggal 3 April 1910. Ketika berumur empat tahun sudah yatim, serta diasuh oleh ibu dan neneknya yang waktu itu mengelola usaha Batik Garut dan Dodol Kuraetin.

Dikarenakan bukan merupakan anak keturunan ningrat, Dede harus sekolah di HIS Kristen dan melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi. Ketika di Sukabumi Dede sempat belajar agama Islam kepada Ustad Sahroni. Sesudah tamat dari MULO Dede melanjutkan ke AMS Kristen di Jakarta.

Baru dua tahun di AMS, beliau disuruh pulang ke Garut oleh keluarganya, sebab diberitakan sering keluar masuk ke Gereja. Oleh keluarganya beliau dimasukan pesantren di Cipari yang waktu itu dipimpin oleh Kyai Harmaen. Ketika itu pula Dede berganti nama menjadi Anwar Musaddad. Beliau lalu mempelajari bahasa Arab serta pindah ke Jakarta. Waktu di Jakarta, beliau menumpang tinggal di rumah H.O.S Cokroaminoto, salah seorang tokoh Serikat Islam (SI).

Tahun 1930, beliau berangkat ke Mekah menyertai ibu dan neneknya ibadah haji. Akan tetapi beliau sekolah di Madrasah Al-Falah, sampai mengajar di tempat itu. Di Mekah Anwar menikah dengan Maskatul Millah, anak mukimin dari Ciparay. Beliau lalu mempelajari agama Islam ke berbagai syekh dan ulama besar di Masjid al-Haram.

Tahun 1941, beliau pulang ke Indonesia serta rajin mengadakan ceramah. Zaman Jepang beliau diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Priangan yang pertama menjadi Ketua Masyumi daerah Priangan. Zaman revolusi, beliau bergabung dengan tentara Hizbullah dan memimpin pasukan dengan K.H. Yusuf Tauziri,

Karir Intelektual

  • Tahun 1960, Anwar Musaddad ditugaskan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta oleh Menteri Agama. Sesudah Perguruan Tinggi itu berdiri beliau menjadi dosen bahasa Arab dan berdakwah di sana.
  • Tahun 1968, mendirikan dan mengelola IAIN di Bandung. Sampai beliau menjadi rektor IAIN Sunan Gunung Djati Bandung yang pertama.
  • Tahun 1968, beliau ditunjuk pemerintah menjadi anggota panitia menerjemahkan dan mengartikan Alquran dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.

II. Mengenal Kitab

  1. Kondisi Lokal dan Nasional pada saat Penulisan Tafsir

Tahun 1967 masa Orde Baru, sebuah istilah untuk pemerintahan Republik Indonesia masa presiden Soeharto. Penandaan tersebut dibuat untuk memisahkan masa tersebut dari masa sebelumnya yang disebut Orde Lama. Dengan berakhirnya pemerintahan Soekarno, kelompok politik Muslim yang mendukung Islam sebagai dasar Negara mengharapkan permunculan kembali wacana tersebut. Namun, pemerintah Orde Baru menjelaskan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 akan tetap dan bahwa Pancasila akan terus menjadi dasar dan falsafah Negara.

Pada saat itu terjadi pembenahan partai politik dimana partai politik yang menjadi peserta pemilu disusun menjadi tiga, semua partai Islam difusikan kedalam satu partai induk. Makna penting dari upaya tersebut adalah bersatunya kembali NU dengan para pengikut Masyumi yang dulu berada dalam partai yang sama. Perundang-undangan memungkinkan pemerintah meneliti para calon yang mengikuti pemilu, dan untuk menolak mereka yang dianggap tidak memenuhi persyaratan. Langkah ini efektif untuk membatasi anggota oposisi yang lebih vokal kepada kebijakan pemerintah yang telah merupakan ciri khas beberapa politikus muslim pada waktu itu.

Tahun 1987 muncul buku  Islam dan Komunisme karya Muhammad Rasyidi, buku ini bersisi kutukan akan Soekarnoisme dan komunisme, dengan mengemukakan bahwa bahwa tingkah laku kaum komunis dan para pengikut sayap kiri Soekarno telah merusak nilai-nilai yang dijunjung  bangsa Indonesia. Kemudian Mukti Ali yang pada waktu itu menjadi menteri agama mengemukakan pandangan para aktivis Muslim yang menyetujui kerjasama antara pemerintah Orde Baru dan Umat Islam dalam pembangunan Nasional, dalam bukunya Agama dan Pembangunan di Indonesia.

Pembangunan keagamaan yang telah mendorong kemajuan pada periode ini, merangsang pemerintah untuk terlibat secara langsung dalam penerbitan buku-buku teks. Dalam dua kesempatan menteri agama menunjuk sebuah badan yang terdiri dari para ulama IAIN untuk menulis tafsir Alquran yang baru.[3]

Bagi sebagian besar umat Islam Indonesia, memahami Alquran dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab tidaklah mudah, karena itulah diperlukan terjemah Alquran dalam bahasa Indonesia. Tetapi bagi mereka yang hendak mempelajari Alquran secara lebih mendalam sangat membutuhkan tafsir Alquran dalam baasa Indonesia.[4]

  1. Proses Penulisan

Setelah melalui proses 8 tahun, akhirnya pada tahun 1980 tafsir ini selesai ditulis. Dalam rentang waktu antara tahun 1980-1990 telah dicetak ulang sebanyak 5 kali. Selanjutnya, tanggal 24 Agustus 1989 dalam rapat pleno Lajnah Pentashih Alquran menghasilkan beberapa butir keputusan tentang perbaikan tafsir ini. Melalu SK Menag No. 81 tahun 1990 dibentuk satu tim penyempurnaan Tafsir Depag. Hasil Kerja tim ini menghasilkan Tafsir Depag yang terdiri dari 10 jilid.

  1. Sekilas tentang Kondisi Kitab

Tafsir Depag edisi yang disempurnakan tahun 2004 berjumlah 10 jilid, warna sampulnya tersendiri yaitu merah marun dan bermotif emas. Tiap jilidnya rata-rata berjumlah 500 halaman. Dilengkapi dengan pedoman transliterasi Arab-Latin, sambutan menteri agama, sambutan kepala litbang Departemen Agama dan diklat keagamaan, kata pengantar ketua Lajnah Petashih Mushaf Alquran, kata pengantar ketua tim penyempurnaan tafsir Depag yakni Akhsin Sakho Muhammad. Disetiap halaman akhir dilengkapi dengan daftar kepustakaan dan indeks. Setiap jilidnya terdapat 2 atau 3 juz.

III. Karaktristik Penulisan Kitab

  1. Sumber Dominan

Dilihat dari karakteristik dan tampilannya, Tafsir Depag tidak jauh berbeda dengan Tafsir al-Marâghî. Dan memang Tafsir al-Marâghî merupakan salah satu rujukan utamanya. Bahkan dalam beberapa uraiannnya, tafsir ini nyaris merupakan saduran atau terjemahan dari Tafsir al-Marâghî. Namun bukan semata-mata hanya terjemahan Tafsir al-Marâghî, sebab dibagian yang lain banyak uraian yang tidak lagi dibayang-bayangi oleh Tafsir al-Marâghî, tetapi memang karya tim tafsir sendiri.

  1. Metode dan Corak Penulisan

Metodologi yang digunakan dalam Tafsir Depag menggunakan metode tahlîlî pertengahan. Yakni tidak sampai pada tataran ensiklopedis, namun tidak bisa dikatakan ringkas mengingat banyak uraian yang terasa panjang. Tidak ada penjelasan terhadap arti kosakata sebagaimana dalam Tafsir al-Marâghî, sebab hal itu telah tercakup dalam terjemahan yang ada.

Tafsir ini bercorak Adab al-Ijtimâ’î yang berusaha mengajak pembacanya melihat realitas masyarakat dan bagaimana mereka bisa mengambil sisi hidayah dari Alquran. Di samping itu, ada juga corak ilmî, yatu ilmu pengetahuan dan teknologi, walaupun tidak mencolok.

Pengambilan sumber penafsiran  menggunakan dua pendekatan, yakni pendekatan bi al-ma’tsur dan bi al-ma’qûl (riwâyah dan dirâyah), yaitu dengan menampilkan hadis-hadis.[5] Namun sangat disayangkan, tafsir Depag tidak konsisten mengambil rujukan yang valid, tafsir Depag terang-terangan mengutip riwayat dari Bibel.

  1. Langkah Penafsiran
  1. Judul dan Penulisan kelompok ayat

Beberapa ayat yang memiliki tema yang sama disatukan dalam dalam satu topik/judul.

b.Terjemah

Terjemahan ayat diambil dari terjemah Alquran Depag hasil revisi 2002.

c. Kosakata (Mufradât)

Kosakata yang diuraikan hanya yang dirasa perlu saja yang mewakili dari kandungan kelompok ayat yang ada dan mempunyai bobot untuk diuraikan dan dikembangkanlebih lanjut, sebab kosa kata yang lain bisa diketahui dari terjemah.

  1. Munâsabah

Maksudnya adalah keserasian antara kandungan kelompok ayat yang ditafsirkan dan kandungan kelompok ayat sebelumnya. Munâsabah yang lain yang ada dalam tafsir ini adalah munâsabah antara kandungan satu surah dan kandungan surah yang akan ditafsirkan.

e. Asbâb nuzûl jika ada

Subjudul ini ditulis jika ada sabab al-nuzûl pada permulaan kelompok ayat yang akan ditafsirkan. Namun, jika ada sabab al-nuzûl di tengah-tengah kelompok ayat, maka subjudul tidak ditulis.

f. Tafsir

Penafsiran dimulai dengan menerangkan secara singkat kandungan surahnya. Informasi singkat seputar surah dipaparkan, misalnya nama surah, jumlah ayatnya, apakah ia termasuk makiyah atau madaniyah, dan poko-pokok isinya. Dalam penafsiran ayat per ayat, pada umumnya kesimpulan ayat sebelumnya diterangkan secara sekilas. Kondisi yang melatar belakangi turunnya ayat juga dijelaskan. Jika ayat yang ditafsirkan mengandung masalah fiqh, maka kadang-kadang pendapat para sahabat, tabi’in dan ulama disebutkan. Dalam melakukan penafsiran banyak dicantumkan ayat Alquran dan hadis. Hal ini mempertegas corak bi al-ma’tsûr tafsir ini, artinya penjelasan suatu ayat dilakukan dengan mengaitkannya dengan ayat lain yang relevan dan dengan hadis.[6]

g.Kesimpulan

Di akhir pembahasan dibuatkan kesimpulan berupa intisari dan nilai yang terkandung dalam ayat. Karena tafsir ini bercorak  hidaî, maka dalam kesimpulan akhir diketengahkan sisi-sisi hidayah dari ayat yang ditafsirkan.[7] (Poin-poin diatas bisa dilihat dilampiran).

  1. Contoh

Tafsir

Kisah pertama tentang Bani Israil pada ayat lalu diuraikan secara umum dan dalam ayat ini diuraikan secara terperinci. Pada masa itu telah menjadi kebiasaan bagi Bani Israil bahwa soal-soal kenegaraaan diatur oleh sorang raja dan soal agama dipimpin oleh seorang yang juga ditaati oleh raja sendiri. Samuel (Nabi mereka saat itu) yang mengetahui tabiat Bani Israil, ketika mendengar usul mereka mengangkat seorang raja, timbul keraguan dalam hatinya tentang kesetiaan Bani Israil tu, sehingga beliau berkata, ” Mungkin sekali jika kepada kamu nanti diwajibkan perang, kamu tidak mau berperang.” Beliau sering menyakskan sifat penakut dikalangan mereka. Mereka menjawab, “mengapa kami tidak mau berperang dijalan Allah. Padahal telah cukup alasan yang mendorong kami untuk melaksanakan perang itu? Kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kami pun banyak yang ditawan oleh musuh.”

Mereka menyatakan bahwa penderitaan mereka sudah cukup berat sehingga jalan lain tidak ada lagi, kecuali dengan mempergunakan kekerasan. Ternyata benar oleh apa yang diragukan oleh Samuel, yaitu tatkala perang telah diwajibkan oleh Bani Israil dan Samuel telah memilih seoran raja untuk memimpin mereka, mereka banyak yang berpaling dan meninggalkan jihad dijalan Allah serta sedikit sekali yang tetap teguh memegang janjinya. Allah mengetahui orang-orang yang tidak ikut berjihad itu dan mereka dimasukkan dalam golongan orang-orang  yang zalim, yang menganiaya dirinya sendiri disebabkan tidak mau berjihad untuk membela hak dan menegakkan kebenaran. Mereka didunia menjadi orang-orang yang terhina dan diakhirat menjadi orang-orang yang ceka dan tersiksa dan mendapat siksa.

(247) Samuel mengatakan pada Bani Israil bahwa Allah telah mengangkat talut (dalam Bibel Saul) sebagai raja. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima talut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut tradisi yang boleh dijadikan raja dari kabilah Yehuda sedangkan talut dari kabilah Bunyamin. Lagipula diisyaratkan yang boleh jadi raja itu harus seorang hartawan, sedang talut bukan hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka menolak, “Bagaimana talut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”

…………

Komentar

Terkait dengan penggunaan Bibel sebagai sumber, penulis menganggap hal ini menarik walaupun sebenarnya bukan hal yang baru. Kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Thabari dan al-Qurthubi juga telah menjadikan israiliyât sebagai rujukannya. Sependek pembacaan penulis, tidak ada larangan atau anjuran mengambil informasi dari bibel atau para pemuka agama Nasrani dan Yahudi, dalam artian bahwa keterangan dan informasi itu seratus persen benar atau salah sama sekali. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahwa informasi yang berasal dari al-Kitab (Bibel) dan ahli kitab statusnya mengambang dan tingkat kebenaran dan kesalahannya sama-sama lima puluh persen,

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا آمنا باالله وما أنزل إلينا وما أنزإليكم

“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka. Tetapi katakanlah bahwa kalian beriman kepada apa-apa yang telah diturunkan Allah kepada kita dan apa-apa yang telah diturunkan kepada kalian”(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Saat menafsirkan ayat 30 surah Yusuf, tafsir ini enggan berpolemik seputar identitas al-Azîz dan istrinya (di edisi lama istri al-Azîz dinamai dengan Zulaikho, padahal tidak ada satu riwayat pun yang sahih mengenai hal ini). Hal ini dikarenakan nama-nama tersebut tidak terdapat dalam riwayat yang shahih, walaupun ada banyak riwayat dalam tafsir-tafsir dan literatur lainnya yang menyebutkan namanya. Namun, saat menafsirkan ayat 246-252 surah al-Baqarah, tafsir ini memberikan penjelasan panjang (hampir empat halaman) terkait kisah Samuel dan Dawud, dengan menggunakan Bibel sebagai rujukannya. (bisa dilihat di lampiran).

Penggunaan Bibel, dengan melihat kasus “istri al-Aziz” dan “Samuel”, sedikit menggambarkan adanya inkonsistensi terkait penggunaan sumber yang valid dan riwayat yang shahih sebagai rujukan tafsir ini.[8]

Untuk menilai sejauh mana Injil secara tepat menampilkan pesan Injil dari Jesus, kita harus memperhatikan fakta-fakta berikut ini:

  1. Tidak ada naskah tertulis mengenai ucapan Jesus yang bersumber wahyu selama masa hayatnya.
  2. Bahwa catatan-catatan paling kuno mengenai ucapan-ucapan Jesus ditulis segera setelah wafatnya Jesus pada saat pemujaan Jesus mulai muncul semuanya sudah hilang.
  3. Injil-injil yang ditulis antara tahun 70-115 berdasarkan sebagian diantara dokumen-dokumen yang hilang itu di mana bahan yng termuat di dalamnya ditulis secara agak bebas, para penulis Injil sama sekali tanpa ragu-ragu mengubahnya dengan apa yang mereka anggap lebih mengagungkan Kritus atau menyesuaikannya dengan pandangan-pandangan sekte-sekte mereka.
  4. Tidak ada seorang penulis Injil pun pernah mengenal Jesus atau mendengar ucapannya.
  5. Injil-injil itu ditulis dalam bahasa Yunani sedangkan bahasa yang digunakan oleh Jesus adalah bahasa Aramia.
  6. Injil-injil itu disusun untuk menyiarkan sudut pandang berbagai macam kelompok dan injil-injil itu dipilih di antara banyak Injil yang mencerminkan berbagai sudut pandang.
  7. Bahwa sekurang-kuangnya selama satu abad setelah injil-injil itu ditulis, injil-injil itu sama sekali tidak memiliki otoritas kanonik dan bias saja atau benar-benar diubah oleh para penyalinnya dari berbagai sekte untuk memenuhi tujuan mereka sendiri.
  8. Manuskrip-manuskrip Injil yang masih ada – Codex Sainiticus, Codex Vaticanus dan Codex Alexandrinus – ditulis pada abad ke-4 dan ke-5, dan tidak seorang pun mengetahui berapa kali Injil telah diubah orang selama berabad-abad tanpa manuskrip satu pun.
  9. bahwa terdapat perbedaan-perbedaan tajam diberbagai tempt di antara manuskrip-manuskrip abad ke-4 dan ke-5 yang masih ada itu.[9]

Fakta-fakta diatas menunjukkan bahwa Injil Jesus belum sampai pada kita dalam bentuk yang asli. Keempat Injil yang dikumpulkan tidak dapat dianggap identik dengan Injil Jesus yang diterimanya melalui wahyu cara penyusunan dan lingkungan yang dilaluinya sedemikian rupa sehingga Injil-Injil itu tidak dapat memberikan informasi yang valid kepada kita seperti yang telah diterima oleh Jesus.

Daftar Pustaka

Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RI, 2005.

Federspiel, Howard M., Kajian Alquran di Indonesia. Terj. Tajul Arifin,  (Bandung: Mizan, 1996).

Muhammad, Ahsin Sakho, “Beberapa dalam Revisi Tafsir DEPAG” Jurnal Sudi Alquran, Pusat Studi Alquran, vol.I, no. 1, 2006

Rahman, Andi, Kualitas Hadis dalam Tafsir Alquran Depag RI, tesis S2 SPS Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.

Samad, Ulfat ‘Azizus, Islam dan Kristen, (Jakarta: Serambi, 2001), Cet. Ke-2.


[1] H. Fadhal AR. Bafadal, “Kata Pengantar” dalam Alquran dan Tafsirnya, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), jilid I, cet. I, h xviii.

[2] Wawancara dengan Thanthawi Jauhari Musaddad, 17 November 2008

[3] Howard M Federspiel, Kajian Alquran di Indonesia. Terj. Tajul Arifin,  (Bandung: Mizan, 1996), hal. 57-60

[4]M. Atho Mudzhar, “Kata Pengantar” dalam Alquran dan Tafsirnya, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005) jilid I, cet. I, h xvi.

[5] Ahsin Sakho Muhammad, “Beberapa dalam Revisi Tafsir DEPAG” , Jurnal Studi Alquran, vol.I, no. 1, 2006.

[6] Andi Rahman, Kualitas Hadis dalam Tafsir Alquran Depag RI, tesis S2 SPS Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.

[7] Ahsin Sakho Muhammad, “Beberapa dalam Revisi Tafsir DEPAG…… ,

[8] Andi Rahman, Kualitas Hadis dalam Tafsir Alquran Depag RI, tesis S2 SPS Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008, hal. 39-40.

[9] Ulfat ‘Azizus Samad, Islam dan Kristen, (Jakarta: Serambi, 2001), Cet. Ke-2, hal. 9-10.